NGAYAL NGALOR NGIDUL: WAHANA ULANG ALIK ILAHIAH (DIVINE SPACE SHIP)

April 29th, 2008 by benks

Namanya juga Ngayal Ngalor Ngidul (mengkhayal kesana kemari/tak jelas/tak karuan), jadi isi tulisan ini kemungkinan besar tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Tapi kalau ternyata faktanya memang demikian, ya semua kembali pada diri masing-masing. Bukankah kenyataan juga ada yang berasal dari imajinasi? Seperti khayalan bagaimana jika manusia ke luar angkasa? Lalu terciptalah pesawat ulang alik. Kemudian dibuatlah propaganda (baca: kebohongan publik, tepatnya) bahwa Amerika sudah pernah ke bulan.

Bicara tentang pesawat ulang alik, aku teringat pada khayalanku waktu dulu. Tentang sebuah Perjalanan Malam.

Sekian tahun berlalu, Perjalanan Malam itu hanya dipandang sebagai fenomenda gaib. Terus terang, aku bisa dikatakan kurang setuju apabila kegaiban dibiarkan gaib. Tapi aku juga tak bisa melakukan apapun untuk menyelidikinya. Akhirnya ketidakberdayaan ini membuatku berkhayal kesana kemari. Berkhayal dengan mencari apakah ada hubungan antara variabel-variabel dalam kegaiban tersebut dengan variabel sains. Aku bukan orang sains, tapi setidaknya variabel yang kumiliki dari sains lebih banyak daripada yang kumiliki dari kegaiban.

Sementara di lain sisi aku bukanlah orang yang religius, yang hafal kelotokan tentang agama, termasuk tentang Perjalanan Malam tersebut. Variabel yang kutahu dari Perjalanan Malam itu hanya sedikit. Apalagi tentang kendaraan yang dipergunakan untuk melakukan Perjalanan Malam itu. Yang kutahu kendaraan itu bernama Buraq. Katanya semacam kuda bersayap berkepala manusia. Cuma itu variabel yang kutahu.

Apa benar demikian? Benarkah ada mahkluk semacam kuda bersayap berkepala manusia? Apakah itu makhluk mitos layaknya pegasus, manticore, sphinx, naga, centaur, dan lain-lain? Ataukah

kuda bersayap berkepala manusia

itu hanyalah selubung yang menutupi fakta sebenarnya tentang kendaraan Perjalanan Malam?

Pada masa Perjalanan Malam itu terjadi, orang lumrah menggunakan kuda, onta, dan keledai sebagai kendaraan. Walaupun ada beberapa yang menggunakan gajah. Dan kadang ada yang menambahkan gerobak untuk membantu membawa muatan banyak. Tapi yang bisa disebut kendaraan pada masa itu hanyalah kuda, onta, keledai, atau gajahnya saja. Gerobaknya sering tidak termasuk.

Dengan mengetahui bahwa kuda merupakan kendaraan/alat transportasi pada masa itu, bisakah aku mengganti kalimat

kuda bersayap berkepala manusia

menjadi

alat transportasi bersayap berkepala manusia

? Bukankah itu terdengar lebih masuk akal? Tepatnya, bukankah itu berhubungan dengan sains? Alat transportasi bersayap. Sebuah wahana bersayap yang lazim disebut pesawat.

Lalu pada bagian

berkepala manusia

-nya.
Kata

kepala

, memiliki arti luas. Kata itu bisa berarti pusat, otak, kendali, kedudukan/posisi/peran intelektual (pemimpin, direktur, ketua), atas, depan, dan masih banyak lagi. Dalam dunia rumahtangga, yang menjadi kepala adalah bapak. Dalam pemerintahan, yang menjadi kepala adalah presiden, raja, kaisar, atau sejenisnya. Sementara dalam pesawat, yang menjadi kepala adalah pilot. Lalu bisakah kalimat

alat transportasi bersayap berkepala manusia

kurubah menjadi

alat transportasi bersayap yang dipiloti (dikendalikan) oleh manusia

?

Jadi pengertian Buraq berubah dari semacam kuda bersayap berkepala manusia menjadi semacam alat transportasi bersayap yang dipiloti (dikendalikan) oleh manusia. Bisakah arti itu diterapkan?

Seandainya bisa, berarti Nabi Muhammad SAW ketika melakukan Perjalanan Malam mengendarai wahana semacam alat transportasi bersayap yang dikendalikan oleh manusia. Lalu siapa pilotnya? Bisa jadi beliau sendiri. Dan untuk memasuki kabin pilotnya beliau harus menaiki batu besar dahulu, karena posisi kabin pilot itu cukup tinggi dari permukaan tanah.

Atau mungkin Jibril yang menjadi pilotnya. Mungkin Jibril menjelma menjadi seorang pria yang mengendarai wahana itu. Nabi Muhammad SAW hanya menjadi penumpangnya. Dan untuk menaiki pesawat tersebut Nabi Muhammad SAW harus menggunakan batu besar karena pintu masuk ke pesawat itu terletak cukup tinggi dari permukaan tanah.

Dengan alat transportasi itu Nabi Muhammad SAW (mungkin bersama Jibril) pergi ke langit ke tujuh. Mungkin langit ke tujuh ada di luar angkasa. Jadi alat transportasi yang mereka naiki bisa disebut pesawat ulang alik.

Lalu bagaimana dengan riwayat yang menyebutkan bahwa

kuda

tersebut berjenis kelamin betina? Dengan riwayat ini, ngayal ngalor ngidul-nya jadi makin terdukung. Istilah

berjenis kelamin betina

mungkin tidak bisa diartikan secara harfiah, bahwa wahana tersebut mempunyai vagina sebagai alat kelaminnya. Mungkin, jika dihubungkan dengan sains, adalah seperti berikut penjelasannya.

Di zaman modern ini ada istilah Artificial Intelegent (AI). Sebuah kecerdasan buatan. Seperti fasilitas yang membuat mesin bisa berinteraksi dengan manusia. Contoh paling sederhana adalah komputer. Bahkan Friendster ini pun bisa disebut AI karena dia bisa meng-generate halaman sendiri ketika seseorang men-submit input alamat e-mail dan password. Halaman Friendster tidaklah nyata. Halaman itu terbentuk dari script di belakang layar. Untuk mengetahui script-nya, cobalah gunakan fasilitas view -> source pada Internet Explorer. Itulah AI yang berada di belakang layar Friendster.

Lalu kenapa bisa disebut berjenis kelamin betina? Contoh sederhana, bila kita isi ulang pulsa ponsel. Ada AI bersuara perempuan yang meladeni pengisian pulsa kita. Contoh lain, bila kita menelpon seseorang tapi nomor telepon yang kita hubungi sedang tidak aktif. Akan ada AI bersuara perempuan yang menjelaskan bahwa telepon yang kita tuju tidak bisa dihubungi. Contoh lain, ada di pintu palang KRL di Jakarta. Setiap ada kereta lewat di persimpangan jalan raya dan rel kereta, maka ada AI bersuara perempuan yang menjelaskan tentang anjuran mematuhi hukum berkendara demi keselamatan bersama. Jadi sebuah AI umumnya bersuara perempuan.

Dari suara itu, jika diterapkan pada

kuda

yang digunakan untuk Perjalanan Malam, mungkin wahana tersebut memiliki fasilitas AI yang juga bersuara perempuan seperti contoh-contoh di atas.

Jadi bisakah pengertian Buraq diartikan sebagai wahana semacam alat transportasi bersayap dengan sistem kendali (AI) yang berbicara menggunakan suara perempuan, dan Nabi Muhammad SAW (atau Jibril yang menjelma menjadi manusia) sebagai pilotnya ?

Wahana ini ilahiah. Canggih dan mutakhir. Kedap suara. Tidak meninggalkan bekas lepas landas. Mempunyai fasilitas stealth mode sehingga bisa tak tampak. Bahkan mungkin buangan exhaust-nya juga tak berbekas. Mempunyai kecepatan sangat tinggi yang melebihi kecepatan cahaya dan kecepatan atom. Berlapis unsur yang tahan terhadap gesekan atmosfer bumi dan tahan terhadap radiasi sinar matahari, serta tahan terhadap gesekan debu-debu angkasa. Benar-benar canggih dan mutakhir! Dan sains zaman sekarang ini belum bisa menciptakan wahana seperti itu jadinya wahana itu (dan segala yang bisa dilakukan oleh wahana tersebut) masih dianggap gaib.

Jika kembali ke awal zaman, ketika Nabi Adam (dan Siti Hawa)

diturunkan

ke bumi, mungkin beliau juga menaiki wahana ulang alik ilahiah yang sama, atau setidaknya sejenis. Dan dengan fasilitas auto pilot pada AI-nya, wahana ulang alik tersebut kembali secara otomatis ke

hangar

-nya untuk kemudian dipakai lagi oleh Nabi Muhammad SAW guna melakukan Perjalanan Malamnya.

Seandainya aku sanggup, aku mau membuktikan kegaiban Perjalanan Malam itu. Orang lain umumnya membuktikan kegaiban untuk menyangkalnya, aku justru untuk meyakininya dan memberitakan pada dunia bahwa kegaiban ini adalah nyata.

Tapi aku menyadari itu semua di luar kemampuanku. Aku bukan orang yang mengerti tentang dunia gaib. Lalu bagaimana aku bisa membuktikannya? Apakah dengn sains? Aku juga bukan orang sains. Aku hanya bisa ngayal ngalor ngidul.

Kelak semuanya akan dibeberkan

. Atau kalimat semacam itulah, aku kurang hafal. Pokoknya yang menyatakan bahwa nanti Allah akan membuka semuanya. Katanya memang sudah takdir kelak semuanya akan terbuka. Berarti sudah ada urutan kejadian yang tertera dalam Skenario Agung.

Perlahan justru sains malah membeberkan hal-hal yang tadinya dianggap gaib. Mungkinkan dengan sains kita bisa membuka seluruh tabir kegaiban? Atau jangan-jangan Skenario Agung itu adalah sains?

THE DEEPEST QUEST (+ IONS)

April 26th, 2008 by benks

THE DEEPEST QUEST (+ IONS)
Baca: The Deepest Quest/The Deepest Questions (Pertanyaan Terdalam/Pencarian Terdalam)

“Jika aku dapat peran menjadi tokoh brengsek dalam drama kehidupan, dan aku memerankannya secara bagus dan maksimal, lalu kenapa SANG SUTRADARA menghukumku?”

Itulah kurang lebih pertanyaan yang terlintas malam kemarin sebelum aku tidur. Sesampainya di tempatku bekerja pada esok harinya, aku langsung online hanya untuk mengganti shout out ku menjadi seperti itu. Agar bila ada yang mengetahui jawabannya bisa memberitahukanku. Membimbingku agar aku tak lagi tersesat.

Sepulang dari tempat kerja aku langsung mandi. Sebenarnya sih tidak langsung, aku sempat menyalakan komputerku. Memutar daftar lagu secara acak, baru mandi. Ketika aku kelar, kudengar lantunan How Too Disappear Completely dari salah satu band kesukaanku, yang masuk kategori “must have all the records”, yang pernah menjadi suara yang menarikku keluar dari lubang tanpa dasar: Radiohead.

Dengan masih memikirkan apa yang terlintas semalam, aku menikmati alunan lagu itu yang terkesan…”gloomy”, atau “low in spirits”, atau “lacking in promise or hopefulness”. Bahkan aku belum sempat bersalin saat aku mulai menulis ini.

Lacking in promise or hopefulness. Itu mungkin yang paling tepat menggambarkan suasana hatiku. Aku merasa ada yang tidak menepati janji. Kalaupun sudah ditepati, aku (dibuat secara sengaja agar) tidak menyadarinya. Kalau janji ditepati tapi disubtitusi, aku tidak dikonfirmasi. Jadi sampai sekarang aku masihlah orang yang merasa kekurangan penepatan janji. Untuk itulah aku mencari jawaban, yang mungkin terlalu sepele bagi orang lain tapi tidak bagiku. Ini masalah prinsip. Aku laki-laki, haruslah berprinsip.

Jawaban baru bisa ditemukan apabila kita bertanya. Pertanyaan bisa keluar kalau kita berpikir sebelumnya tentang hal tersebut. Mungkin aku terlalu berpikir. Dengan kalimat yang lebih lugas: mungkin aku “sok” menjadi orang yang berpikir. Tapi apakah aku bersalah atas apa yang kupikirkan? Kalau iya, mengapa? Apakah karena aku mempertanyakan dogma? Macam mana aku bisa menelan obat penyembuh luka dan sakitku jika aku tidak tahu apa obat yang akan kutelan? Apa pengaruh sebuah obat pusing yang kutelan bila sakitku gatal-gatal? Bukankah aku harus mencari dan menelan obat anti gatal? Dan yang paling membebaniku adalah, kenapa semua ini ada di pikiranku? Apakah semua ini juga ada di pikiran orang lain?

Dari mana aku bisa memulai mencari jawabannya? Dari pikiranku sendiri? Atau dari hatiku? Tapi sampai sedalam apa pencarian di dalam hatiku nanti? Bukankah kedalaman hati orang tiada pengukurnya? Bagaimana jika aku nanti tak bisa kembali ke permukaan akibat dalamnya hatiku yang teramat sangat? Apakah mata hatiku tertutup? Siapa yang menutupnya? Bisakah aku membukanya kembali, jika pernah terbuka sebelumnya? Atau bisakah aku membuka untuk pertama kalinya, jika belum pernah terbuka? Pernahkah ada orang sepertiku, jika memang pernah? Adakah orang lain sepertiku? Akankah ada orang sepertiku yang mempunyai pertanyaan-pencarian ini, jika aku orang yang pertama?

Mengapa terasa serumit ini? Siapa yang bisa diminta pertanggungjawaban atas pertanyaan-pertanyaaku? Aku sendiri? Ataukah si sosok misterius itu?

Dari mana aku bisa memulai mencari jawabannya? Dari tempat dimana aku tinggal? Dari orang-orang sekitarku?

Teringat pada buku The Alchemist karya Paulo Coelho…

Ada pemuda Spanyol, seorang gembala yang sehari-hari menjaga domba-domba milik majikannya. Ia hanya mencari untung dari penjualan susu domba, dan penjualan bulu domba saat musim panas. Sehari-hari ia biasa tertidur di sebuah reruntuhan gereja tua di dekat padang rumput tempatnya menggembala.

Suatu ketika terlintas benaknya untuk mencari harta karun terpendam yang, berdasarkan cerita, terletak di Mesir. Setelah beberapa waktu akhirnya sampailah ia di Mesir dan apa yang ia dapatkan? Bukan harta karun, tapi sebuah pukulan (denotatif) dari seseorang yang menyadarkannya bahwa harta yang ia cari bukan berada di Mesir, melainkan di tempatnya berasal, Spanyol. Ketika kembali ke gereja tua tempat ia biasa tidur, barulah ia menemukan harta yang ia cari.

Intinya bukan pengendalian diri. Tapi, jika ada sesuatu yang dicari, mulailah mencari dari yang dekat. Mulailah cari dari tempat kita berasal. Dari keluarga, saudara, kekasih, sahabat, teman, kenalan. Jika tak juga ketemu, baru cari ke tempat yang jauh. Sampai negeri Cina kalau perlu, seperti kata pepatah.

Dari mana aku bisa memulai mencari jawabannya? Beruntunglah ada teknolgi komunikasi jarak jauh jadi aku bisa mencari dari tempat yang dekat dan tempat yang jauh sekaligus. Soal jawabannya, jangan tanyakan aku. Ia masih tersembunyi di suatu tempat yang aku tak tahu apakah dekat atau jauh dari tempatku. Dimanakah jawaban itu berada? Dimanakah “harta” yang kuinginkan?

Pertanyaan-pencarian ini bukan tentang Atlantis. Atau mungkin iya tapi sedikit. Ini lebih kepada tentang aku. Tentang kekasih abadi, si sosok misterius. Tentang tulang rusuk yang entah menjadi siapa. Apakah pernah diambil dariku atau masihkah ia menempel di sini? Tentang kehidupan. Tentang alam semesta. Tentang fisika dan metafisika. Tentang jiwa dan raga. Tentang dimensi ruang dan waktu. Dan mungkin benar, tentang Atlantis.

Are you too old? Or too tired? Or fall asleep? Why dont you make a move? Why dont you hear my scream? Why do you remain silent? Is this part of your great plan? Is your hand too small to give me? Or is it too short to reach me? Why dont you answer me? Are you playing ignorance with me?

Or have you…dead?

How can I know you if you don’t let me find you?

————————————————————

Kupegang sebatang lilin kecil menyala
Duduk dalam ruangan besar yang gelap
Menanti jawaban dari sosok misterius
Dan aku tetap menunggu di sini, dengan lilin
Sampai apinya membakar tanganku
Dan padam
Dan meninggalkan lepuhan
Tetap kutunggu

I AM ATLANTEAN!

April 3rd, 2008 by benks

I AM ATLANTEAN! (Aku adalah orang Atlantis!) — Sebuah polemik antara aku dan entah siapa.

Setelah menemukan jawaban-jawaban pertanyaan batinku -yang kutulis dalam blog fs “AM I ATLANTEAN?”- aku tidak berhenti sampai di situ. Aku kerap kali memberitahu, bahkan menanam dogma pada orang-orang sekitarku mengenai keberadaan Atlantis, sesuai dengan keyakinanku, bahwa Atlantis adalah Indonesia. Berharap timbul sifat nasionalisme tinggi pada diri mereka, sama sepertiku setelah aku membaca Negara Kelima milik Es Ito. [Terima kasih pada Es Ito akan hal ini]. Banyak dari mereka yang tidak percaya, tidak peduli. Tapi sedikit yang peduli dan percaya sepertiku. Aku tak gentar menghadapi cemoohan dari kaum pesimis dan bantahan dari kaum terdidik, karena aku didukung mereka yang optimis, cinta negeri, dan walaupun tidak (baca: kurang) terdidik, mereka punya keyakinan. Terutama tentang keberadaan Atlantis di Indonesia.

Bantahan-bantahan yang datang tidak hanya disampaikan secara langsung kepadaku, tetapi juga yang disampaikan kepada kami yang percaya hal ini. Melalui situs-situs dan blog-blog tertentu. Contohnya seperti yang kubaca dari sebuah blog, aku lupa URL-nya .[Kalau mau search, coba ketik "Benarkah Indonesia itu Atlantis _ « Dongeng Geologi" tanpa kutip]. Sebuah blog tentang dialog antara penulis dengan Sulastama Raharja, yang oleh penulis dipanggil si Komo.

Mereka dengan berandalkan risetnya yang njelimet dan tingkat pendidikan tinggi serta minat baca yang tinggi, membantah dengan memberikan sumber-sumber bantahannya. Menurut ini, menurut itu, kata si anu, berdasarkan teori gituan, dan sebagainya. Mungkin mereka menganggap keberadaan Atlantis di Nusantara itu hanya hal gaib. Sementara aku menganggap bahwa hal gaib adalah fakta yang tertunda, yang penjelasan ilmiahnya belum bisa dibuktikan. Contohnya seperti ketika Sang Pujaan, Nabi Muhammad SAW melarang umatnya meniup makanan ketika menyuap makanan panas. Orang-orang pada zamannya mungkin tidak tahu alasan ilmiah mengapa hal itu dilarang. Mereka hanya mematuhi berdasarkan kredibilitas Nabi Muhammad SAW. Sementara orang-orang setelah zamannya, sebelum penjelasan sains tentang hal itu terungkap, menjauhi larangannya -mungkin- karena ada alasan gaib di balik larangan itu. Tapi ketika ilmu pengetahuan mampu menjelaskannya, ternyata udara yang keluar dari mulut kita ketika kita meniup makan panas adalah udara kotor. Jadi sebenarnya Nabi Muhammad SAW melarang kita “mengotori” makanan yang hendak kita makan. Atau kita dilarang makan makanan yang kotor. Haruslah yang baik dan bermanfaat. Nabi Muhammad sendiri mungkin tahu alasan rasional mengapa ia melarang kita melakukan hal itu. Tapi ia sengaja tidak memberikan alasan logis kepada kita agar kita mencari tahu sendiri apa maksud dibalik itu. Kalau kita mencari tahu sendiri berarti kita belajar. Kalau belajar berarti kita mengamalkan ayat Al Quran yang turun pertama: IQRA! Sebuah kesinambungan yang sangat menarik dan sangat masuk akal.

Kembali ke Atlantis, bukan kembali ke laptop. Karena aku tak pernah meninggalkan laptop.

Membaca “Benarkah Indonesia itu Atlantis _ « Dongeng Geologi”, aku mempunyai 2 pertanyaan: satu bersifat introspektif, yaitu “Apakah aku salah memahami penjelasan-penjelasan yang kubaca tentang Atlantis?”. Dua, yang bersifat merendahkan, yaitu “Apakah mereka tidak memahami dengan baik penjelasan-penjelasan seperti yang kupahami?”

Ada (baca: banyak) perbedaan pemahaman tentang Atlantis, terutama tentang risetnya Prof Santos (www.atlan.org). Ini kuambil langsung dan mentah-mentah tanpa diedit, dari blog “Benarkah Indonesia itu Atlantis _ « Dongeng Geologi”:

PERBEDAAN PEMAHAMAN I

[Penulis:]
1. Pak Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India , Sri Lanka , Sumatra , Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya.

[Jawaban si Komo yang ditulis oleh pemilik blog:]
komo: kalau melihat figure 20 dari http://www.bernardharrisonandfriends.com/pdfs/continental.pdf , pada jaman es antara 1,6 juta - 100 ribu tahun yang lalu, daerah yang saat ini di namakan indonesia sudah tidak menyatu. Pada saat air laut surut, sumatera, kalimantan dan jawa menyatu dengan asia, maluku, papua menyatu dengan australia sementara sulawesi dan nusatenggara sebagai pulau2 sendiri. Jadi ketetapan Pak Santos spekulatif dan kurang akurat. Hal ini didukung oleh jenis2 fauna yang berbeda antara Papua dengan Jawa/Sumatera/Kalimantan, fauna2 di papua lebih mirip dengan autralia dan fauna di jawa/sumatera/kalimantan lebih mirip dengan di Asia.

[Aku:]
Penempatan tanda baca dari blog tersebut membingungkan pembaca, khususnya aku, yang pernah mengenyam pendidikan jurnalistik. Jadi menurut pemahamanku tentang jawaban si Komo, si Komo mengatakan bahwa Sumatera-Kalimantan-Jawa menyatu dengan Asia, Maluku-Papua menyatu dengan Australia, sementara Sulawesi-Nusatenggara masing-masing berdiri sendiri.

Pemahamanku: menurut si Komo, riset Prof Santos tidak akurat karena Sumatera-Kalimantan-Jawa-Maluku-Papua dianggap tergabung dalam pangea Asia. Padahal menurut penjelasannya Prof Santos -dan mudah-mudahan sama dengan pemahamanku- adalah,
Sumatera-Kalimantan-Jawa memang menyatu dengan Asia, Maluku-Papua memang menyatu dengan Australia, sementara Sulawesi-Nusatenggara memang masing-masing berdiri sendiri. Prof Santos memang menggambarkan seperti itu, sama seperti pendapat si Komo. Tapi kenapa si Komo malah memahami bahwa Prof Santos mengatakan pulau-pulau di Indonesia dulunya tergabung?

Sulit dicerna? Jadi begini. Prof Santos bilang A. Si Komo mendengar dan memahaminya sebagai B. Lalu Si Komo mencari tahu tentang hal itu dan ternyata fakta yang didapat adalah A. Lalu ia bilang ke publik bahwa Prof Santos salah karena telah berkata B, sementara -menurut si Komo- yang benar adalah A. Dan si Komo mengklaim kebenarannya tentang perihal A itu didapat bukan dari Prof Santos. Sementara ketika Prof Santos bilang A, aku memahaminya sebagai A. Jadi ketika si Komo bilang “Prof-Santos-salah-karena-telah-berkata-B,-padahal-yang-benar-A”, aku jadi bingung. Bagiku, apa yang dibilang Prof Santos dan si Komo sama-sama A, tapi si Komo telah “memfitnah” Prof Santos. Fitnahnya adalah bahwa Prof Santos telah berkata B.

A yang dimaksud adalah “Sumatera-Kalimantan-Jawa menyatu dengan Asia, Maluku-Papua menyatu dengan Australia, sementara Sulawesi-Nusatenggara masing-masing berdiri sendiri”. Dan B yang dimaksud adalah “Pulau-pulau di Indonesia dulunya tergabung”.

Sudah bisa dicerna? Kuharap sudah, karena aku bingung bagaimana lagi cara menjelaskannya. Mari lanjut.

PERBEDAAN PEMAHAMAN II

[Penulis:]
2. Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene) … Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/ Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau
(Krakatoa)…

[Jawaban si Komo yang ditulis oleh pemilik blog:]
komo: “Super Volcano Toba terjadi 73.000 BC tahun yang lalu, merupakan letusan terhebat dalam 2 juta tahun terakhir. Teori plato di atas jadi kurang akurat karena menyebutkan letusan Krakatau yang paling dasyat. Mengacu kepada http://mirrorh.com/timeline.html, Atlantis Kingdom(?) mungkin ada pada 23.400 B.C , jadi tidak mungkin letusan Toba menenggelamkan Atlantis, karena letusan Toba terjadi sebelumnya.

[Aku:]
Duh.. ada 2 kesalahpahaman di sini.

Pertama terjadi antara si Penulis dengan si Komo. Si Penulis bilang: “Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau”. Lalu dibantah oleh si Komo: “Super Volcano Toba terjadi 73.000 BC tahun yang lalu, merupakan letusan terhebat dalam 2 juta tahun terakhir”. Rupanya si Komo benar-benar memberi ketegasan bahwa letusan yang paling dahsyat adalah letusan Toba, dilihat dari kata “Super Volcano Toba”-nya. Mungkin si Komo ini orang Batak ya? Orang Batak yang bisa disebut “murtad” karena bernama Sunda. Kok segitu tegasnya menekan bahwa letusan Toba-lah yang paling hebat? Aih, sudahlah, ayo kembali ke masalah.

Jika ada pernyataan begini: “Presiden Indonesia terhebat di kemudian hari adalah Suharto”. Lalu tiba-tiba dari lain pihak terdengar argumen: “Presiden terhebat adalah Soekarno”.

Dari kasus “presiden terhebat” di atas, aku memahaminya demikian: Soekarno hebat, setelah itu (juga) Suharto. Dari kasus “letusan terhebat” di atasnya lagi, aku memahami: Letusan Toba dahsyat, kemudian kedahsyatannya diikuti Krakatau. Antara ranking 1a (Toba/Soekarno) dan 1b (Krakatau/Suharto). Mungkin benar letusan Toba adalah yang paling hebat selama 2 juta tahun terakhir. Walaupun berdasarkan tayangan National Geographic Channel yg pernah kutonton menyatakan letusan Tambora adalah yang paling hebat. Dan mungkin Plato tidak kenal Toba, yang dia tahu Krakatau. Sama halnya seperti ABG sekarang menganggap bahwa Ikhsan Idol memiliki suara yang unik, padahal aku tahu dari siapa Ikshan Idol mencontoh suara seperti itu. Eddie Vedder. Mungkin Plato sama seperti ABG sekarang. Karena ketidaktahuannya akan “ada letusan hebat sebelum letusan Krakatau”, jadinya ia mengira bahwa letusan Krakatau-lah yang paling hebat. Dan si Komo mengklarifikasi bahwa letusan Toba-lah yang paling hebat, dengan menilai kesalahan Plato.

Kesalahpahaman ke dua, mari fokus ke kalimat terakhir dari jawaban si Komo: “…jadi tidak mungkin letusan Toba menenggelamkan Atlantis, karena letusan Toba terjadi sebelumnya.”

Memang bukan letusan Toba yang menenggelamkan Atlantis. Adalah Krakatau yang menenggelamkan Atlantis, karena di gunung itulah pusat kota Atlantis berada. Sumatera-Kalimantan-Jawa yang menyatu dengan Asia adalah teritori utama Atlantis. Gunung besar itulah yang kemudian diwujudkan menjadi stupa terbesar dan teratas di Candi Borobudur. Bicara tentang Candi Borobudur, coba datangi lagi ke sana dan cermati relief-reliefnya secara akurat. Tidakkah relief itu sama seperti cerita Atlantis? Tentang sebuah negeri yang gemah-ripah-loh-jinawi, kemudian musnah terkena bencana. Candi Borobudur adalah sebuah monumen untuk mengenang Atlantis. Candi Borobudur adalah “miniatur” Atlantis.

“The pyramid complex of Borobudur (Java) has been hailed as the most significant monument in the Southern Hemisphere and, perhaps, even of the whole world.”
[www.atlan.org]

Maksudnya, dibanding segala monumen dunia ini, Kompleks Candi Borobudur adalah monumen paling meyakinkan tentang keberadaan Atlantis.

PERBEDAAN PEMAHAMAN III

[Penulis:]
3. Ilmuwan Brazil (Prof Santos) itu berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat.

[Jawaban si Komo yang ditulis oleh pemilik blog:]
komo: agak susah dimengerti kenapa letusan gunung berapi menyebabkan lapisan es mencair.
Letusan super volcano Toba menyebabkan terjadinya penurunan suhu bumi 4-5 derajat, letusan gunung Tambora menyebabkan tahun tanpa musim panas di Eropa. Yang mungkin terjadi akibat letusan gunung berapi adalah debu akibat letusan gunung berapi terlempar ke atas/ udara, berada di tamosfer bumi cukup lama dan menghalangi sinar matahari sehingga terjadi penurunan suhu bumi. Tekanan sedimen dan air di dasar samudera menyebabkan gempa merupakan spekulasi yang kurang akurat, mengenai penyebab gempa bisa dilihat di http://earthquake.usgs.gov/learning/kids/eqscience.php atau di
http://earthsci.org/education/teacher/basicgeol/earthq/earthq.html#OginofEarthquakes .

[Aku:]
Yang oleh si Komo diperkirakan mungkin terjadi -mengenai mencairnya lapisan es ini- adalah benar: “Yang mungkin terjadi akibat letusan gunung berapi adalah debu akibat letusan gunung berapi terlempar ke atas/udara, berada di atmosfer bumi cukup lama dan menghalangi sinar matahari sehingga terjadi penurunan suhu bumi.”

Hal ini senada dengan Prof Santos:

“The explosion of Mt. Krakatoa caused a giant tsunami, which ravaged the lowlands of Atlantis and Lemuria. It also triggered the end of the last Ice Age by covering the continental glaciers with a layer of soot (fly ash) which precipitated their melting by increasing the absorption of sunshine. ”
[www.atlan.org]

“Ledakan Gn. Krakatau menyebabkan tsunami besar, yang menghancurkan dataran rendah Atlantis dan Lemuria. Ledakan tersebut juga memicu berakhirnya zaman es dengan menutup benua es dengan lapisan asap tebal (debu yang berterbangan) yang lelehannya diakibatkan dari meningkatnya penyerapan sinar matahari.”

Singkat kata, saat Krakatau meletus, selain terjadi tsunami, juga terjadi global warming. Terjadi efek rumah kaca. Panas matahari yang masuk ke bumi tidak bisa keluar karena tertutup asap tebal yang terbentuk dari debu-debu letusan Krakatau. Itulah yang menyebabkan lapisan es mencair.

Apa yang dibilang “mungkin” oleh si Komo adalah apa yang dijelaskan oleh Prof Santos. Kesalahpahaman yang terjadi seperti PERBEDAAN PEMAHAMAN I kembali terjadi si sini. Prof Santos bilang A. Si komo memahaminya sebagai B. Lalu setelah riset, si Komo bilang yang benar adalah A dan pendapat si Prof Santos salah (si Komo mengira Prof Santos bilang B, karena begitulah yang dipahami si Komo).

Hahaha…aku jadi teringat iklan susu kental manis. “Ini teh susu,” kata si Ujang. Lalu si Gendo bilang, “Susu kok dibilang teh?”

Wah, sudah mulai ngawur nih aku. Bagaimana tidak, si penulis sepertinya ngawur duluan. Apa yang tidak dikatakan Prof Santos malah dibilang Prof Santos yang mengatakannya. Lalu si Komo mengatakan apa yang sebenarnya dikatakan oleh Prof Santos. Wah kalau begini terus, aku capek juga harus “meralat” pendapat si penulis dan si Komo.

Akhirnya kuputuskan untuk menyudahi “bantahan” terhadap blog “Benarkah Indonesia itu Atlantis _ « Dongeng Geologi” ini. Percuma. Lagipula, sekarang sudah azan Shubuh. Sudah waktunya… Tapi tunggu sebentar. Untuk menutupi blog ini, aku ingin melempar pertanyaan tentang budaya Nusantara kepada siapa saja yang membaca blog ini.

Jika ada yang pernah/sedang diluar negeri, siapapun dimanapun itu, aku mau tahu: apakah di sana ada struktur pemerintahan seperti di Indonesia? Struktur pemerintahan sampai yang terkecil: Rukun Tetangga?

Mungkin RT-RW ini salah satu sisa peninggalan budaya Atlantis.

Oh iya, tambahan… ini ada beberapa kutipan dari comment pembaca blog tersebut:

1.
“nek gunung mbledos bagian yang hilang mananya ? puncaknya atau seluruh gunungnya ? Kalau seluruhnya gunungnya mungkin tidak ya ? mungkin tidak ya bisa membelah jawa dan sumatera.”

Tanggapanku mengenai komentar di atas: Krakatau meletus…meledak… semuanya meledak. Duar! Seperti itulah yang kutonton di National Geographic Channel, acara Behind The News, episode Krakatoa. That’s why Plato bilang letusan Krakatau yang paling hebat, karena letusannya itu menghancurkan dirinya sediri. Yang tadinya menghubungkan Jawa dan Sumatera, kini jadi pemisah antar keduanya.

2.
“Malu kalau Indonesia sebagai Atlantis, lha gimana, pejabatnya kaya gitu? korup terus… Masa peradaban tinggi menghasilkan mental uelek banget.”

Memang, awalnya Atlantis adalah bangsa yang, let’s say, saling tenggang rasa, tepo seliro, dll. Tapi kemudian orang-orangnya pada bejad. Mungkin karena ketamakan dan keangkuhan, menganggap negerinya adalah yang paling hebat. Jadi Allah menurunkan azab pada mereka. Memusnahkan negerinya. Tapi tidak memusnahkan jejaknya. Candi Borobudur adalah jejaknya. Sama seperti Laut Mati, jejak dari kaumnya Nabi Luth. Atau mumi masal di Pompeii, untuk memberi kita pelajaran akan kebiasaan buruk Kaligula.

Lagian, kalau aku boleh memaparkan penalaranku, mental bangsa kita yang tadi disebut “uelek” (aku tak tahu apa artinya), itu diakibatkan penjajahan non-fisik dari bangsa barat. Mereka (baca: bangsa barat) tidak bisa menjajah Nusantara secara fisik, karena, sudah menjadi turunan dari Atlantis-Sriwijaya-Majapahit bahwa bangsa ini adalah bangsa yang “hebat”. Perang 3,5 abad pun diladeni, tak kenal menyerah. Seandainya Indonesia dijajah fisik selama satu milenium pun, aku yakin, akan tetap dilawan sampai bisa mendapatkan sendiri kemerdekaannya. Karena ketidakmampuan bangsa barat -yang somehow sudah tahu bahwa Nusantara adalah Atlantis, that’s why mereka mau merebutnya- dalam menjajah fisik bangsa ini, akhirnya mereka menjajah dengan cara non-frontal. Dengan kebudayaan: Pop culture, apalah namanya.

3.
“Ya ampun, soal atlantis disibukin, soal adam air yg menghilang begitu dekatnya belum bisa diketemui, alah rek.waduh seh.gombloooo.”

Nah ini menarik… membuatku bercermin. Tapi aku bukan ahli mencari pesawat hilang, orang hilang, atau kotak hitam. Aku juga bukan ahli apa-apa. Aku ahli tidur. Tapi Atlantis lebih menarik bagiku, sama halnya naik angkutan umum lebih menarik bagiku ketimbang naik kendaraan pribadi. Dan perihal Atlantis ini membuatku tidak tidur malam ini.

Soal hilangnya Adam Air, hmmm… mungkinkah itu konspirasi?
*) Tulisan ini diposting dekat dengan kejadian hilangnya Adam Air di… dimana aku lupa, 11 Januari 2007. Jadi wajar dia menulis demikian. Jangan mengira bahwa dari waktu dekat ini terjadi pesawat hilang lagi.

4.
“Saya baru-baru ini nemuin artikel dalam bhs jawa mengenai bangsa Atlantis. Kira2 seperti ini yang mereka tulis:

“PENGARUH GAIB BANGSA ATLANTIS TERHADAP ORANG-ORANG DI P. JAWA”


Menurut Lead Beater: sarjana dari Inggris ini, dalam bukunya yang berjudul “The Occult History of Java” (Sejarah Kegaiban di P.Jawa), menyebutkan diwaktu itu pulau Jawa dihuni oleh bangsa gaib, yaitu yang disebut Bangsa Atlantis. Bangsa ini memiliki ilmu teknologi tingkat tinggi (mutakhir). Mereka bisa mengubah rupa manusia menjadi rupa binatang atau monster yang mengerikan. Juga memiliki senjata pamungkas, yang ampuh seperti laser saat ini. Hanya karena mereka sangat tamak, lalu mereka melupakan kekuasaan Tuhan, maka dengan seketika Tuhan memusnahkan mereka karena telah salah mempergunakan senjata pamungkasnya.

…BERSAMBUNG…
(maaf, lanjutannya lain waktu, nyambi kerja siy)”

Hahahaha.. atasannya datang ya? Takut ketahuan main internet saat jam kantor? Hahaha… payah tuh bos!! Tapi benar-benar menarik. Lebih menarik daripada Mulan Jameela plus Agnes Monica plus Siti Nurhaliza tidur bersama denganku.

5.
“Pak Rovicky ini sepertinya belum baca buku Santos ya.. Pasti belum juga baca buku Plato yg menjadi deskripsi awal tentang Atlantis.. Dimaklumilah..”

Rovicky sepertinya si nama pemilik blog. Komentar ini… Aku sependapat dengan komentar ini.

…Tapi azan subuh sudah dikumandangkan beberapa waktu lalu. Aku harus bergegas. Dan aku belum tidur.

DARI BATU BERTUAH KE TELAGA SURGA

September 27th, 2007 by benks
Konon ada sebuah ilmu yang bisa mengurai segala benda menjadi partikel kecil dan menyusunnya kembali dalam bentuk baru yang berbeda dengan bentuk sebelumnya. Ilmu itu disebut alkimia. Orang yang mempelajari/menguasai ilmu itu disebut alkemis. Seorang alkemis, meyakini adanya sebuah batu yang disebut ’batu bertuah’, atau sorcerer’s stone. Tidak semua alkemis, bahkan sangat jarang, yang bisa memiliki batu itu karena bukan si alkemis yang mendapatkan batu bertuah, melainkan sebaliknya: si batu yang menentukan siapa tuannya. Hanya alkemis terpilih yang boleh memiliki batu bertuah.
Batu bertuah mempunyai khasiat lebih dari ilmu alkimia itu sendiri. Batu itu bisa merubah segala benda menjadi emas. Batu itu juga bisa memberikan keabadian pada si empunya batu.
Aku tidak percaya pada omong kosong ini.
Sampai suatu ketika aku didatangi sosok batu bertuah itu. Sayang, batu itu dipegang orang lain. Dan aku pun baru percaya pada omong kosong ini saat batu itu memberikan khasiat pertamanya kepadaku: merubah dunia-dalam-pandanganku menjadi berwarna. Mencerahkan pengelihatanku. Membuka cakrawalaku. Mengasah keberanianku dan menggilas ketertutupanku. Setelah batu itu memberikan keabadian jiwa untukku, barulah aku benar-benar meyakini keberadaannya. Aku juga baru menyadari bahwa aku adalah seorang alkemis, dan yang (masih) memiliki batu itu juga seorang alkemis. Alkemis yang sering menyiakan khasiat batu bertuah. Aku mulai berandai ’apakah batu itu sengaja menampakkan diri di depanku agar bisa berpindah tangan padaku?’ Seolah batu itu memperkenalkan dirinya agar bisa berpindah tuan. Dan akulah tuan yang dipilihnya.
Sampai pada saatnya ketika batu itu benar-benar muak telah disia-siakan oleh tuannya, batu itu melepaskan diri dari sang tuan. Walaupun secara teknis si tuan yang ’membuang’ batu itu, tapi menurut hakikat alam, si batu-lah yang melepaskan diri dari tuannya. Ini juga salah satu kemampuan dari batu bertuah itu: melepaskan diri dari tuannya.
Mungkin sekarang si alkemis – yang tadi memiliki batu bertuahku – telah menemukan batu bertuah lain yang menurutnya lebih memikat dan lebih baik. Tapi mungkin juga si alkemis itu malah menemukan batu biasa, bukan yang bertuah seperti yang dimiliki sebelumnya. Bagiku batu bertuah yang kubicarakan inilah yang paling memikat. Bagaimana tidak, batu itu adalah penggerak: seperti tali yang menarikku, seperti daya yang mendorongku. Aku merasa abadi setelah mengenal batu itu, semua duniaku menjadi mengkilat bagai logam mulia. Tapi aku masih belum yakin apakah batu itu akan memilihku sebagai tuan barunya? Ataukah aku harus bersaing dengan alkemis lain yang juga telah terpikat oleh aura kehebatannya. All I know is underneath its beauty, lies another beauty.
Aku hanya seorang alkemis pemula. Belum banyak bisa mengurai unsur-unsur alam. Jika ada saingan alkemis di sampingku, tentunya dia lebih hebat dalam memahami unsur-unsur alam. Aku khawatir batu bertuah itu lebih memilih alkemis lain. Karena jika demikian, segala keabadian yang sekarang aku nikmati menjadi kembali fana. Segala emas yang ada di seluas-arah-pandangku menjadi kembali buram, sampai aku menemukan batu bertuah selain batu bertuah ini.
Aku tetap meyakinkan diri bahwa akulah tuan barunya. Aku sangat berharap batu itu akan memilih aku menjadi tuannya, untuk selamanya.
Inilah kesimpulan sementara ceritaku: I THINK I HAVE FOUND MY SORCERER’S STONE, AND IT’S A DIAMOND.
2 Januari 2007
Aku menghampiri lokasi batu bertuah. Memandangi keindahannya, mencurahkan keinginanku menjadi tuannya, dan ”menelanjangi” keindahan-dalam-nya dengan pikiranku. Aku mempraktekkan aktifitas alkimia di depannya. Mengurai unsur-unsur alam seperti air, api, angin, batu, tanah, bahkan cinta, semampuku. Namun batu bertuah itu memberikan delusi padaku mengenai alkemis-alkemis lain yang juga mempraktekkan alkimia, dan mereka ternyata jauh lebih hebat dari aku. Sudah kukatakan sebelumnya bahwa aku hanya seorang alkemis pemula, yang mungkin belum pantas menjadi tuan bagi batu bertuah itu. Kalaupun bisa, mungkin batu bertuah lain yang bisa kumiliki, bukan yang kumaksud ini.
Dari delusi yang dia masukkan ke pikiranku, dia mencoba berkata: ”Aku, sang batu bertuah, tidak (baca: mungkin belum) memilihmu sebagai tuanku, wahai Bambang Suwito sang alkemis pemula. Sementara ini aku tidak berkeinginan memilih siapapun sebagai tuanku. Kalau khasiat-khasiatku memancar padamu, itu juga memancar pada alkemis lain, dan sesungguhnya aku tidak memancarkan itu pada kalian (para alkemis). Itu kau rasakan karena kau ingin aku memancarkannya. Itu hanya angan-angan darimu sendiri yang menipumu seolah aku memancarkan khasiat-khasiatku.”
Sekarang aku menyadari kalau batu bertuah pilihanku tidak (baca: mungkin belum) memilihku menjadi tuannya.
Seorang alkemis sepertiku harus membutuhkan waktu lama untuk bisa memiliki batu bertuah seperti itu. Mungkin aku terlalu tergesa-gesa dan gegabah dalam menilai ini. Yang hampir pasti adalah setelah ”penolakan” ini aku mungkin akan kembali mendewakan kesendirianku, dan kembali belajar mengolah unsur alam. Sampai aku menemukan batu bertuah lain. Mungkin juga sampai batu bertuah yang kumaksud ini menerimaku sebagai tuannya.
Wahai alam semesta, kau bilang kau akan menggenapkan kemampuanmu saat aku menginginkan sesuatu, guna membantuku meraihnya. Tapi kali ini nyatanya….? Ataukah aku terlalu cepat menilai janjimu? Wahai alam semesta, dimana kalian saat kubutuhkan? Bukankah hari ini, 2 Januari, adalah hari kelahiranmu?
Terima kasih wahai batu bertuah. Mungkin benar kata firasatku bahwa Sang Kekasih Abadi tidak menunjukku sebagai tuanmu. Kau bukanlah batu bertuahku. Sekali lagi, aku bukan tuanmu.
…Dan aku pergi bersama sang waktu manjauhi keberadaan batu bertuah. Berjalan tak menentu, tak bertujuan, bahkan aku lupa darimana aku datang. Di tengah perjalanan ini aku menemukan jejak nabi Adam, dan jejak bangsa agung terdahulu. Kutelusuri jejak itu tapi bercabang. Aku tak tahu harus pilih yang mana. Bingung. Lapar. Dahaga. Penasaran. Frustasi…
Aku termenung. Diam. Dan selanjutnya kutinggalkan jejak itu. Somehow aku terbawa hembusan angin antah berantah. Jejak ranting, dan dedaunan mengarahkanku pada sebuah telaga bening, tenang, luas, dan hijau. Dan aku terpana…
Penduduk setempat bilang itu telaga surga. Banyak yang singgah di sana. Sedikit yang bertahan. Yang bertahan mengklaim telaga ini miliknya. Dan katanya juga masih ada satu orang bertahan, tinggal di sana. Berarti saat ini dialah pemilik telaga surga. Seperti apa dia? Lalu bagaimana dengan telaga surga itu sendiri? Kenapa disebut telaga surga? Apakah mata airnya dari surga? Atau keindahannya merefleksikan bidadari surga? Aku ingin mereguk setiap tetesnya. Aku ingin membasuh paruhku dengan airnya. Aku ingin tinggal dan tiada yang boleh menggantikanku.
Ah… ini hanya lamunan akibat lapar, dahaga, dan frustasiku…. Dan ketika aku sadar, telaga itu tampak sirna. Fatamorganakah ini? Katakan padaku…. secepatnya. Dan wahai telaga surga… nyatakah kamu?

AM I ATLANTEAN?

August 25th, 2007 by benks

 

*AM I ATLANTEAN=APAKAH AKU ORANG ATLANTIS?

Pada suatu masa dimana kadar keimananku di atas rata-rata,
aku tergoda oleh para mahkluk mulia agar aku mengkaji kitab suci. Maka
kubedahlah baitan firman itu. Tapi maafkan aku ya Allah, aku tidak mau
terdoktrin mentah-mentah dengan kata-kata indah dariMu. Karena kuyakin selain
memberi ketentraman hati dan sastra nan agung, di dalam pesan-pesanMu mengadung
maksud tertentu. Bahkan aku yakin aku bisa menemukanMu.

Akhirnya kusudahi rapalan di satu bahasa, dan kurahkan
mataku pada tulisan berbahasa ibu, yang merupakan arti dan tafsiran dari bahasa asing yang
tadi kulantunkan. Sekali lagi aku tak puas. Segera kututup media itu, dan
beralih ke media cyber. Lebih asyik, pikirku, karena bisa menggunakan indeks
dengan mudah.

 

Pencarianku mulai tak terarah, bukan arti dan tafsir dari
bacaan tadi. Melainkan tentang hal lain. Kucoba cari tentang Iskandar
Zulkarnain. Kubaca. Kemudian kucari tentang Khidir. Kubaca. Kemudian kucari dan kubaca tentang
orang-orang hebat dan mulia zaman dahulu. Lalu kucari tentang kaum ‘Ad, Tsamud,
dan kaum-kaum lain. Bagiku mereka tampak sama saja: berlatar belakang Arab,
atau setidaknya berada di jazirah

sana

.

Timbul pikiran nakal dalam benakku: Kenapa tidak ada bangsa selain bangsa Arab di kitab
mulia ini?; Bukankah Dia itu Tuhannya alam semesta?;  Apakah Dia hanya
Tuhannya bangsa Arab, dan diluar bangsa Arab secara langsung ataupun tidak langsung ‘dipaksa’
percaya pada Tuhannya bangsa Arab itu?; Kalau Dia memang Tuhannya alam
semesta mengapa Dia tidak melibatkan bangsa lain dalam Kitab Agung ini, seperti bangsa Viking atau suku Aztec misalnya?; Bukankah kalau kita menyebut ‘alam semesta’ berarti sama saja menyebut seluruh
bangsa di dunia ini bahkan sampai keluar galaksi (jika memang ada bangsa di
luar galaksi)?; dan pertanyaan-pertanyaan nakal lain yang terpintas. Lebih spesifik lagi: Mengapa Dia tidak mengikutsertakan

Indonesia

, bangsaku ini, kedalam
sejarah dunia? Mengapa selalu bangsa Arab? Lagi-lagi Arab, lagi lagi Arab. Mengapa ya Allah, mengapa?

Maafkan atas keingintahuanku yang membabi buta ini. Bukankah
Kau sendiri yang menyuruh manusia sepertiku untuk berpikir dan membaca, sesuai
kata pertama dalam firmanMu? “BACA!”

Lagi-lagi Arab, lagi-lagi Arab. Mana Indonesianya? Akibatnya aku minder menjadi bangsa

Indonesia

. Sebuah negara ‘tim hore’
yang cuma meramaikan kancah dunia. Tidak dapat peran apa-apa. Figuran dalam
sandiwara besar dan panjang dari sejarah dunia ini. Terbesit dalam hati kecilku
sebuah doa kecil: andai saja bangsa ini ikut serta dalam sejarah dunia. Seperti

Iraq

dengan Mesopotamia-nya,
Jerman dengan Hitler-nya, Yunani dengan para filsufnya,

Andalusia

dengan para ilmuwannya, atau bahkan Amerika dengan Bush-nya. Aku tak bangga
menjadi bangsa

Indonesia

.

Waktu berlalu cukup lama.

 

Seorang sahabat di lingkunganku tumbuh dan besar berbicara
mengenai sebuah buku. Dia suka pada buku itu, walau diakui ceritanya tidak
berakhir sesuai harapan. Aku tidak tertarik, karena dia menceritakan tentang
sebuah negeri non sense, bernama Atlantis, sesuai yang diapaparkan buku itu. Betapa
tidak, aku hanya tahu Atlantis dari film-film barat. Dan yang paling dekat
kuketahui, aku teringat akan game Age of Mythology Expansion: The Titans, yang
didalamnya ada kaum Atlantean (orang-orang atlantis).

Tapi karena cerita itu
keluar dari mulut seorang sahabat, aku berpura-pura tertarik dan sesumbar
meminjam buku itu. Dia menyanggupinya. Kupikir karena aku masih punya banyak
waktu senggang, tak apalah sebagai pelipur sepi. Dan kubacalah buku berjudul
NEGARA KELIMA karangan ES ITO itu.

Selepasnya, aku justru mendiskreditkan si penulis. Kupikir dia terlalu banyak nonton film. Film fiksi pula! Aku tidak meyakini apa-apa tentang hasil karyanya itu. Lalu aku mengemukakan pendapatku pada si empunya buku. Dia justru memberi pandangan bahwa bisa jadi si penulis salah, tapi bagaimana jika si penulis benar? Mengapa dia berani mengemukakan tulisan itu, sama beraninya dengan Dan Brown yang mengungkap Holy Grail, rahasia Monalisa, Madonna of the Rock, dan lain-lain? Bukankah harusnya dia punya data akurat agar tulisannya bisa dipertanggungjawabkan jika ada orang ‘kurang kerjaan’  minta buktinya?

Pandanganku terbagi dua. Jika ES ITO salah maka selesai perkara. Tapi jika benar?

Sejujurnya aku sedikit berharap bahwa si penulis menceritakan fakta yang kuat. Betapa tidak, dia menyebutkan bahwa peradaban tertua di Hindustan, Mesopotamia, Mesir, dan suku Indian di benua Amerika, berasal dari satu induk peradaban, yaitu peradaban pertama dan lebih tua dari peradaban yang pernah tercatat dalam sejarah, peradabannya Nabi Adam as, Plato menyebutnya dengan nama Peradaban Atlantis. Dan peradaban ini terletak di bumi Nusantara.

Tadi sudah kusebutkan bahwa keingintahuanku membabi buta. Rasa ingin tahu tentang Atlantis justru semakin kuat dan mendorongku mencari tahu lebih dalam lagi. Sebagai awal, aku meracau ke teman-temanku: jika mereka ada informasi tentang Atlantis, atau lokasi Nabi Adam as turun ke bumi, atau peradaban Nusantara Kuno, tolong beritahu aku. Sedangkan aku sendiri mencari literatur satu-satunya yang menjadi bukti tunggal tentang keberadaan Atlantis, sebuah karya Plato yang berjudul Timaeus and Critias. Memang ada bagian yang menyebutkan tentang kondisi alam Atlantis:

1. Tanahnya subur, banyak pepohonan. Rakyat Atlantis tidak akan pernah merasa khawatir akan kehabisan kayu.

2. Banyak ragam binatang, khususnya gajah dan banteng.

3. Mempunyai dua musim. Ini berarti Atlantis berada di daerah tropis.

4. Banyak gunung.

5. Dan beberapa keterangan lain, sayangnya aku lupa.

Memang semua ciri-ciri yang disebutkan ada di bumi Nusantara. Tapi aku tidak mau terlalu cepat mengambil kesimpulan.

Menurut keterangan Plato, yang dijabarkan di buku NEGARA KELIMA, Atlantis adalah tanahnya Poseidon. Poseidon punya anak kembar laki-laki. Yang satu dipanggil Atlas. Yang satu lagi aku lupa siapa namanya. Tanah Atlantis diberikan pada Atlas, itulah mengapa tanah itu disebut Atlantis, negeri milik Atlas.

Di lain sisi, aku pernah mendengar bahwa Nabi Adam as punya anak kembar, bernama Habil dan Qabil.

Hanya itu informasi yang kutahu. Memang ada korelasi antara Poseidon dan Nabi Adam. Kupikir ibarat banana dan pisang, batu dan stone, langit dan sky. Hanya beda nama tapi merujuk ke satu objek.

Nah, jadi jika Atlantis adalah bumi Nusantara, sementara Poseidon adalah Nabi Adam as, berarti Nabi Adam as turun di bumi Nusantara. Hanya sampai di sini pencarianku. Buntu. Dari sisi agama aku tidak mendapat apa-apa lagi tentang Nabi Adam, kecuali doktrin bahwa dia adalah manusia pertama, sementara dari sisi lain aku juga tidak mendapat apa-apa lagi selain tetek bengeknya si Plato itu.

Buntu. Waktu berlalu cukup lama, lagi. Aku mulai patah semangat mencari tahu dimana sebenarnya letak Atlantis. Adakah korelasi antara Atlantis, Nusantara, Nabi Adam as, dan Poseidon?

Namun ternyata seorang mantan pacar ada yang terpengaruh dengan racauanku tentang Atlantis, Nusantara, Nabi Adam as, dan Poseidon. Yang tadi sudah kusebutkan. Dia rupanya juga mencari tahu tentang itu.

Kemarin, 25-08-07, aku menerima e-mail yang memberi link ke http://www.atlan.org. Sebuah e-mail dari mantan pacar yang masih peduli dengan pola pemikiran dan imajinasi-imajinasiku. Aku terkejut dan merasa bangga. Rupanya seorang profesor asal Brasil, bernama Arysio Santos, mengklaim telah menemukan benua yang hilang: Atlantis. Dan penemuannya itu merujuk ke bumi Nusantara. Bahkan dia juga mensinyalir bahwa Nusantara bukan hanya situs peradaban pertama, melainkan juga situs manusia pertama. Manusia pertama tidak lain dan tidak bukan adalah Nabi Adam as, yang Plato menyebutnya dengan nama Poseidon.

Selisih beberapa menit setelah kuungkapkan pada rekan kerjaku bahwa aku (juga ikut) menemukan pencarianku tentang peran Nusantara, dia menceritakan tentang cerita rakyat Badui. Katanya, rakyat Badui masih meyakini bahwa manusia pertama kali berada di tanah Badui, Banten. Ungkapan ini semakin membuatku sumringah. Percaya tidak percaya. Dan yang lebih ajaib lagi, somehow, paman dari Bos-ku tiba-tiba memastikan apakah aku mau ikut dengannya ke Badui. Pikiranku mendadak kacau balau. Tiba-tiba pertanyaanku terjawab bertubi-tubi, dan aku diberi kesempatan untuk membuktikan kebenaran jawaban itu.

Ada kekuatan ilahiah yang sedang bekerja padaku saat itu. Aku yakin, somehow, aku digariskan untuk menapak tilas asal muasal manusia. Yang ternyata asalnya dari bumi Nusantara. Dari tanah Atlantis. Jawabanku tentang peran Indonesia di kancah dunia sudah terjawab. Ternyata Indonesia punya peran yang sangat penting bagi peradaban lainnya. Betapa tidak, manusia pertama turun di bumi Nusantara!!! Dan pencarianku justru baru bermulai di sini. Insya Allah, aku akan segera berangkat ke Badui untuk berkunjung ke situs ‘tanah asal’ kita semua. Dan tulisan ini tidaklah berakhir sampai disini. Sama seperti pencarianku, tulisan ini justru baru dimulai.

NO SUCH TITLE

August 21st, 2007 by benks

There’s no topic i would like to post…

MY AMBIGRAMS

August 18th, 2007 by benks

click here to view my ambigrams

perhaps you’ll the latest flash player plugin or active x control installed on your browser

AMBIGRAMS

July 4th, 2007 by benks

Untuk mengetahui apa arti ambigram, silahkan cari tahu sendiri. Aku merekomendasikan cari tahu ke ahlinya, di http://www.johnlangdon.net.

Pertama kali aku mengetahui ambigram dari sebuah buku berjudul Angels and Demons. Aku amazed terhadap karya seni itu. Tapi aku belum tertarik untuk mencobanya. Baru kemudian ketika aku melihat sticker band lokal Purgatory yang tertempel pada motor kawanku, aku mulai tertarik pada ambigram. Kalau Purgatory bisa, kenapa aku tak bisa? Itu pikirku. Lalu kucoba membuat sebuah ambigram. Awalnya kucoba membentuk namaku sendiri menjadi sebuah rotational ambigram. Maka hasil akhirnya sampai saat ini adalah seperti gambar di bawah:
Benks_1

Baca: Bambang 

Saat membuat rotational ambigram namaku sendiri ini, aku sedang dekat dengan seorang sahabat perempuan, bernama Intan. Lalu terlintas di benakku agar membuat kembali rotational ambigram untuk satu-satunya teman perempuan terdekatku itu. Mungkin sebagai bumbu persahabatan. Ajaibnya konsep rotational ambigram untuk Intan didapat kurang dari 3 menit. Hanya penyelesaiannya saja yang memakan waktu semalaman suntuk. Konsep awalnya adalah seperti ini:
Survey_01

Baca: Intan

Dan setelah dikutak-katik (yang memakan waktu semalaman suntuk itu) barulah terbentuk seperti ini:
Survey_02_2


Baca: Intan

Setelah membentuk nama Intan, aku merasa sedikit bangga. Dan keesokan harinya kuberikan rotational ambigram ini padanya. Aku berharap dia sama tercengangnya seperti aku ketika aku menemukan konsep ambigram untuk nama Intan. Dan dia tercengang, setidaknya itulah dugaanku. Kreditku di matanya berubah menjadi "sahabat yang kreatif".

Dengan menyandang predikat baru itu, aku mencoba memamerkan dua ambigramku pada seorang sahabat bernama Jaka. Dia kagum sekaligus menantangku untuk membuatkan ambigram namanya. Prosesnya memakan waktu kurang lebih 2 hari. Itu pun masih belum selesai. Pagi ini (5 Juli 2007 pukul 5:30) baru kupindahkan sketsa ambigram nama Jaka ke wadah digital. Masih sangat kasar. Hanya menggunakan brush tool. Tapi tak apa, yang penting sudah terbentuk sebuah ambigram. Sayangnya, yang kubisa kubuat baru rotational ambigram. Jadi ambigram untuk nama Jaka hanya terbentuk seperti ini:
Jaka_1

Baca: Jaka

Dan sekarang sedang aku usahakan membuat ambigram untuk seorang sahabat seperjuanganku, Ellan, yang sebentar lagi meminang gadis minang bernama Ida. Rencananya akan kupersembahkan ambigram itu untuk mereka, agar mereka sudi memasang ambigram karyaku di undangan pernikahannya. Tapi aku hanya bisa berencana dan berusaha. Entah apakah Sang Khalik menyetujuinya. Semoga saja iya.

Terima kasih untuk John Langdon, atas segala masukan ambigramnya. Juga kepada  para seniman ambigram yang karyanya terpasang di http://ambigram.net. Semoga aku bisa masuk dalam komunitas ambigram artists, baik itu internasional maupun nasional. Lalu siapa saja seniman ambigram Nusantara? Apakah kamu salah satunya? Kirim e-mail ke thetouristfromthesun@yahoo.com atau seributopanbadai@gmail.com. Ditunggu responnya…

KEHILANGAN

July 1st, 2007 by benks

Pernah merasa kehilangan? Pacar, uang, perkerjaan, kerabat, bahkan keyakinan? Semuanya kualami. Termasuk yang terakhir kusebut. Tapi aku (untungnya) belum benar-benar kehilangan itu. Seorang sahabat terdekat menginap di tempatku semalam. Kami berbicara tentang sosok manusia sempurna sepanjang masa… Aku bersyukur kenal sosok manusia itu, walau aku tidak mengenalnya.

Hmmpf… sedikit recharge keyakinan